Batu Akik Darah, Mitos dan Sejarahnya

Batu Akik Darah, Mitos dan Sejarahnya – Bloodstone, atau yang lebih familiar disebut batu Akik Darah di Indonesia, tergolong gems klasik dan kuno yang telah ditemukan sejak jaman dahulu kala. Namun batu ini lebih memikat perhatian orang karena aspek spiritualnya yang dianggap unik, termasuk mitos yang terkandung di dalamnya.

Sebagian orang berpendapat, antara Bloodstone yang dikenal di manca negara dan batu Akik Darah di Indonesia sebetulnya berbeda. Namun sebagian lagi memandang keduanya sebagai batu yang sama dan identik. Hal ini memang sering membuat bingung. Agar lebih jelas, kita bisa menelaahnya dari sisi histori kemunculan batu ini.

Batu Akik Darah, Mitos dan Sejarahnya

Batu Akik Darah

Sejarah dan Mitos Bloodstone

Bloodstone adalah batu mulia berjenis kalsedon bernuansa dominan hijau pekat yang mempunyai kandungan inklusi oksida besi yang umumnya berwarna merah. Inklusi tersebut memiliki wujud yang sangat mirip dengan percikan darah. Hal inilah yang membuatnya punya nama alias lain sebagai batu Darah atau Bloodstone.

Dalam cerita-cerita legenda Yunani, batu ini lebih tenar dengan nama Heliotrope. Pada masa ketika kerajaan-kerajaan Yunani bertempur di medan perang, Heliotrope banyak dipakai sebagai benda keberuntungan para pasukan. Hal ini terkait dengan kepercayaan pada saat itu, yang meyakini bahwa Heliotrope mempunyai kemampuan istimewa untuk mengatasi luka pendarahan dengan cepat.

Hanya dengan membawa batu ini, prajurit-prajurit kebanggaan Yunani dikisahkan menjadi lebih berani dan percaya diri untuk menghadapi ketajaman pedang musuh-musuhnya. Mereka memakai Heliotrope untuk dijadikan pelengkap aksesoris peralatan perang, dan meyakini batu ini punya energi untuk menyembuhkan serta mencegah darah mengalir saat terluka.

Bloodstone juga memiliki mitos yang dikaitkan dengan sejarah umat Kristiani, yang menceritakan bahwa percikan bercak merah yang terdapat pada batu tersebut berasal dari darah Yesus Kristus yang menetes pada saat disalib. Oleh karena itulah ada yang menyebut batu ini sebagai batu Darah Kristus.

Di kalangan masyarakat Prancis,  batu Darah Kristus lebih dikenal dengan nama Le Sang Du Christ dan diketahui telah lama mendapat tempat tersendiri dalam sejarah kebudayaannya. Hal ini terbukti dari digunakannya batu ini untuk cap kebangsawanan sejak jaman dahulu kala. Di dunia ilmu pengetahuan klasik, Bloodstone juga dimanfaatkan para ilmuwan kuno untuk menganalisa siklus matahari.

Batu Akik Darah Naga Sui

Berbagai mitos dan kisah sejarah di atas telah menunjukkan bahwa keberadaan Bloodstone memang cukup legendaris di kancah dunia. Lalu bagaimana di Indonesia?

Indonesia juga mempunyai batu mulia serupa, dan lebih populer disebut batu Akik Darah Naga Sui. Batu ini pertama kali diketemukan di kawasan lereng Gunung Slamet, khususnya di sekitar aliran sungainya yang terletak di area perbatasan Banyumas dan Brebes.

Batu Akik Darah Naga Sui mempunyai karakteristik yang sama dengan Bloodstone yang terkenal di dunia internasional.  Dengan wujud warna dasar hijau seperti lumut, batu ini terlihat unik dengan ciri khas corak bercak merah layaknya tetesan darah. Komposisi nuansa warnanya sekitar enam puluh persen hijau dan empat puluh persen merah. Kualitas kekerasannya ada di level menengah dan memiliki daya tahan di tingkat 6 hingga 7 skala Mohz.

Selama ini Bloodstone hanya diketahui ada di pusat-pusat penambangan seperti Brazil, India, dan Australia. Namun ternyata di wilayah Indonesia juga ditemukan batu mulia serupa. Tapi batu Akik Darah yang awalnya mudah dijumpai ini lama-kelamaan semakin langka karena banyak diburu dan ditambang seiring popularitasnya yang meningkat.

Demikianlah informasi seputar Batu Akik Darah, Mitos dan Sejarahnyasemoga bermanfaat

Batu Akik Darah, Mitos dan Sejarahnya | admin | 4.5